Matahari pagi mulai menyengat di akhir bulan November. Seperti biasa saya segera menaiki angkutan umum menuju pusat kota. Meski kabut Bukit Gado-Gado masih melayang, namun herannya cuaca terasa sudah panas. Memang beberapa bulan terakhir, perubahan cuaca mendadak menjadi hal biasa bagi warga Padang yang beraktifitas.
Lumrah saja, jika paginya begitu dingin siangnya panas sekali, dan hujan lebat turun mengguyur di sore hari. Sambil menikmati pagi, mobil yang saya tumpangi melaju kencang dan menyalib mobil-mobil lain tanpa takut.
Hari mulai beranjak siang ketika saya sampai di pasar raya. Aktivitas pedagang bercampur baur dengan bunyi klakson mobil. Sayup-sayup terdengar suara yang mungkin tak pernah saya dengar lagi selama sepuluh tahun ini. Dengan bergegas saya pun mendatangi arah suara itu.
“Ayo Ibu-Ibu, Bapak-Bapak, Adik-adik mendekatlah. Ini ular baru saya bawa dari Kalimantan. Ini ular berkepala dua dan terpaksa saya simpan dalam peti. Sebentar lagi akan saya buka dan tunjukan kepada kalian.” Tampak kerumuman orang mengeliling seorang laki-laki kumal dengan segala peralatan yang unik dan aneh.
“Tapi sebelumnya saya mau melihatkan kepada Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, ini obat baru saya dapat dari orang Dayak. Ini obat berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit. Penyakit rematik, kencing manis, asam urat, dan segala macam penyakit yang ada di tubuh,” serunya bersemangat.
Dengan penuh penasaran beberapa laki-laki menyambut uluran tangan si penjual obat dan membaca secarik kertas yang berisi informasi soal obat yang konon baru dibawa dari tanah Kalimantan itu. Sementara beberapa anak kecil tampak berusaha mencigap di balik peti si penjual obat, sama halnya ketika saya masih sekolah dulu yang begitu penasaran dengan isi di dalamnya.
Dengan sabar saya terus menyaksikan “pertunjukan rakyat” yang menarik hati ini. Ya, sudah lama ia tak lagi tampak yang dulu bisa dijumpai di sudut-sudut pasar raya, terutama di bagian “leter U” di belakang bioskop Padang Teather.
Namun, sebagaimana “trade mark” penjual obat, “Baiklah, jika tidak ada lagi maka kami akan tutup dan terima kasih atas perhatiannya. Dan jika obat tidak berkhasiat maka uang kembali. Besok saya akan ke sini lagi!” Si penjual obat pun menutup dagangannya.
Demikianlah, dengan tetap penasaran beberapa anak kecil mulai berani hendak membuka peti si penjual obat. “Hoi! Apo yang kalian liek?! Pai kalian…!” Hardik si penjual obat dengan mata membelalak. Penuh ketakutan mereka pun lari sambil tertawa-tawa dan saya pun berlalu meninggalkan tempat itu.
Masa lalu yang rapuh
Ketika masih sekolah dulu, dalam mata pelajaran geografi dan sejarah, guru saya senantiasa bercerita akan keelokan negeri ini. Tanahnya yang subur dan hutan yang merimba penuh binatang buas nan eksotik.
Sawah-sawah yang menguning dengan pak tani yang membawa cangkul dan anak gembala yang duduk di atas kerbau dengan puput serunainya. Atau ketika padi baru ditanam bersama teman-teman memancing belut di sawah dan menikmatinya dengan ubi bakar. Air sungai pun jernih tempat mandi-mandi dan mencari ikan lewat putas atau pancing dengan umpan cacing.
Menyenangkan! Tapi itu semua adalah masa lalu. Kerapuhan menjadi inti dari masa lalu karena ia sesuatu yang ada di belakang dan tak akan pernah kembali.
Kini semua telah berubah. Entah kapan lagi saya bisa menikmati ciloteh si tukang obat itu. Kini perumahan telah menggantikan sawah-sawah, anak-anak muda lebih menikmati duduk di punggung “bebek Jepang”, sungai-sungai telah dijadikan proyek penahan banjir, dan hutan tak lagi angker karena binatang buasnya telah dihabisi pemburu dan praktek illegal logging. Kesemuanya karena alasan pembangunan di negeri ini sejak tiga dasa warsa lalu.
Save Our Earth
Orang bijak mengatakan, apa yang kita tuai hari ini tak lain adalah apa yang kita tanam di masa lalu. Secara sinis Voltaire menyindir bahwa apa yang bisa dipelajari dari sejarah adalah orang-orang tidak pernah mau belajar dari sejarah. “Sejarah merupakan tabel-tabel kebodohan manusia”, ungkapnya.
Salah satu isu penting dunia hari ini adalah masalah pemanasan global (global warming). Bahkan mantan wakil presiden AS, Al Gore mendapat nobel perdamaian atas kiprahnya mengingatkan warga dunia menyangkut kelangsungan bumi tempat kita berpijak ini yang semakin hari semakin tenggelam oleh laut akibat mencairnya es di kutub utara-selatan. Selain itu, pemanasan global juga telah mengakibatkan penyimpangan gejala alam (climate change) yang menimbulkan serangkaian bencana alam seperti angin puting beliung, badai El Nino, banjir, tanah longsor dan peningkatan suhu bumi.
Konferensi internasional perubahan iklim di Bali lalu, merupakan salah satu upaya serius dari berbagai negara penghasil emisi gas karbondioksida—yang dianggap biang dari global warming dan segala akibatnya—seperti Inggris, Perancis, Cina, Jepang, AS, dan termasuk Indonesia. Hutan dan terumbu karang yang secara unik dan luar biasa mampu menangkap gas karbon itu supaya tidak merusak lapisan ozon, telah hilang oleh illegal logging dan pembangunan wisata. Tak ada lagi penyaring gas itu yang semakin hari semakin meningkat menutup langit-langit kita yang biru.
Untuk itu, kepedulian para pemimpin negara maju dan Indonesia dalam mengatasi masalah tersebut merupakan harapan kita semua. Semoga bisa dilaksanakan serta menjadi kenyataan apa yang menjadi rumusan konferensi, karena semakin hari, tanpa disadari bumi ini terus mengerusi dirinya ke arah kehancuran akibat tangan-tangan manusia. Demikianlah, semuanya karena pembangunan yang mengedepankan kerakusan dan kapitalisme. Pohon pembangunan yang kita tanam puluhan tahun lalu kini telah berbuah dan kita makan dengan pahit.
Saya masih ingat, di buku-buku dan surat kabar atau pidato para pemimpin dan pengusaha kita. Dulu, kita dibuai oleh ciloteh, bahwa pembangunan sebagai jalan kesejahteraan bagi masyarakat. Kita ditawari obat anti miskin dan anti-anti lainnya yang diderita rakyat ini. Dengan lugu dan penasaran rakyat pun mengulurkan tangan menyambut carikan kertas ramuan nan mujarab itu. Sebagai harganya, rakyat diminta menyerahkan tanah dan hutannya untuk digunduli dan anak-anaknya mengonsumsi mimpi-mimpi modernitas dan kemajuan yang akhirnya menanggalkan identitas tradisi dan kultur nenek moyangnya. Jadinya, sulit sekarang menentukan, di wilayah-wilayah publik manakah kini kita berada, apakah di Paris, Hongkong, New York, Milan, atau di sebuah “nagari” bernama Minangkabau.
Kita telah termakan oleh rayuan “si penjual obat”. Janjinya untuk kembali ternyata dusta semata. Anak-anak kita yang penasaran dengan janji dalam “peti” itu telah dihardik untuk pergi dan kita pun membiarkannya, pada hal merekalah pemilik masa depan negeri ini. Umbuik mudo yang akan menjadi paga nagari jo kampuang.
Kita telah khilaf dan anak cuculah yang menderita. Sekarang, si penjual obat itu telah pergi. Entah kemana hendak mencarinya, dan untuk apa? Namun sikap optimis tetaplah mesti dijaga, karena “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri”. Badai pada satu waktu nanti pasti berlalu. Wallahu’alam.