Berbagai cara telah ditempuh, termasuk menyuplai aki dari mobil lain untuk menghidupkan starter-nya. Namun tetap saja tak berhasil. Dengan masgul dan agak sedikit kecewa—barangkali malu karena berhenti di jalanan utama—Pak Pemred menyudahi segala usaha dan kami pun meninggalkan si mobil yang ngambeknya tak juga kesudahan.
Segalanya kemudian berjalan sesuai aktivitas masing-masing. Ketika hari telah sore, barulah masalah baru kemudian muncul. Bagaimana nasib mobil Pak Pemred. Ditinggal saja dan esoknya kembali membawa montir. Atau dibawa ke bawah ke bengkel terdekat? Jika ke bawah, dengan apa mau dibawa? Diderek? Entahlah, susah juga menentukan ketika itu karena ia memiliki kemungkinan terburuk; biaya mahal!
Akhirnya, entah bergurau entah serius, salah seorang dari kami beri usul; “bagaimana diluncurkan saja ke bawah”? Posisi mobil dan kondisi jalanan ke bawah Unand yang cukup landai dirasa cukup untuk meluncur tanpa perlu mesin dihidupkan. Coba-coba untung bisa berhenti di salah satu bengkel di bawah dan bisa langsung diperbaiki.
Sepakat, akhirnya bersama tiga orang lain dengan Pak Pemred di posisi depan stir kami pun mendorong mobil “ngambek” ini menuju jalanan landai yang berada diputaran depan rektorat itu. Berhasil! Mobil meluncur dengan mulus ke bawah. Pak Pemred senang, saya senang—karena dapat tumpangan ke bawah, dan semuanya senang. Happy ending—kata orang sinan.
Beberapa hari kemudian kami berempat kembali berkumpul dan bercanda soal “mobil ngambek” Pak Pemred. Iseng saya sampaikan, luncuran mobil Pak Pemred kemarin bisa berdampak ekonomis bagi Unand khususnya dan Sumbar umumnya. Kenapa? Bayangkan, berapa banyak mobil atau kendaraan berminyak yang lalu lalang ke dan dari Unand? Mungkin ratusan, atau barangkali ribuan. Dan coba jika dihitung-hitung berapa minyak yang bisa dihemat oleh daerah ini dengan jumlah kendaraan yang meluncur ke bawah dari Unand tanpa perlu menghidupkan mesinnya, dan menurut pengalaman Pak Pemred—karena setelah hari itu lebih sering mematikan mesin mobilnya jika ke bawah—kita bisa hemat 1 sampai 11/2 liter perhari. Kalikan itu untuk satu minggu, dua minggu, satu bulan, satu tahun dan seterusnya. Wah, luar biasa! “Kita bisa minta Pak Rektor memulai program penghematan ini”, kata teman yang lain. Iya, tapi apa nama programnya? Salah seorang dari kami, Pak Em(eraldy Chatra), bergurau mengatakan, “bagaimana kalau kita namakan “Luncuran Wannofri”. Semua tertawa.
Bagaimana jadinya rencana ke rektor itu? Entahlah. Itu hal kecil yang tak perlu mendapat perhatian.
***
Beberapa tahun lalu, seorang “Barat” pernah menawarkan pada negara-negara berkembang yang sulit membangun dan terpatri pada kemampuannya mengembangkan teknologi pada tingkat madya merintis terminologi ekonomi; “kecil itu indah”. Gagasan “kecil itu indah” cukup mengagetkan dunia, dan melegakan buat negara berkembang yang merasa dibela.
Oleh Orde Baru doeloe, secara ideologis, kita pernah sangat percaya dengan istilah tersebut. Ia diharap bakal menjadi jalan keluar yang “fungional” bagi pengembangan ekonomi berteknologi “kecil” itu. Makanya dengan semangat pembangunan yang terkenal itu, desa kemudian menjadi lahan pilot project dengan basis teknologi yang telah lama ada—seperti dinyatakan Sobary—dengan: teknologi serba kecil, serba sederhana dan seterusnya itu. Tetapi apa kemudian terjadi? Proses kapitalisasi dipedesaan justru dikembangkan di luar desa. Pemilik modal yang ada adalah orang kota yang beroperasi di desa dengan kapital besar dan menelan serta menenggelamkan para usahawan kecil-menengah ini.
Besar menelan yang kecil. “Dimana-mana, ‘hukumnya’ tetap saja begitu”, kata seorang petani miskin di pedalaman Solok sana. Usaha kerajinan tangan, makanan tradisional, seni tradisi dan segalanya dimakan oleh korporasi-korporasi multinasional yang cukup disayang di negeri ini. Kecil pada akhirnya memberi kesaksian kepada kita; pasti tersingkir!
“Itu dulu Da”, kata seorang teman lulusan sarjana humaniora. “Kini, justru kecil itu mewah”. “Wah, kok bisa waang kecekan gitu?” kata saya ketika berdiskusi ringan di sudut kampus ini.
“Iya, sekarang orang lebih banyak bicara tentang hal-hal besar dan berdampak ekonomi dan politik yang juga besar. Pemilu 2009, krisis ekonomi, krisis Irak, konggres kebudayaan dan sekian banyak even besar dengan dana yang juga besar. Dan di negeri ini pun orang-orang besar pun digala dengan nama adat kebesaran demi—konon katanya—kepentingan yang lebih besar. Tetapi, sejauh mana kebesaran yang ada itu menjadi sesuatu yang bisa dinikmati, baik oleh raso jo pareso?
Wah benar juga. “Pandai ang ba ilustrasi,” kata saya. Kami pun menikmati kacang tempe yang tersedia dengan nikmat.
***
Hari ini, kalau dipikir-pikir, banyak orang tak bisa menikmati jerih payah mereka sendiri. Mereka terpasung oleh rutinitas dan pengejaran ambisi yang tak berujung. Manusia kini adalah manusia-manusia robot waktu dan nafsu. Waktu mereka berjalan tanpa indra perasa dan tak berharga karena menurutkan nafsu materialisme.
Pada titik kisar akhir, harga sebuah waktu akan terlihat ketika ajal akan datang atau ketika menunggu vonis dokter akan akhir hidupnya karena penyakit mematikan. Dan ketika itulah detik demi detik hidup ini menjadi lebih berharga dan manusiawi. Hal-hal kecil pun menjadi bernilai dan sayang untuk dilewati.
Terasalah bagi dia betapa indahnya matahari pagi ketika terbit dan terbenam. Betapa merdunya kicauan burung diperbukitan. Dan begitu syahdunya alam ketika hujan telah berhenti dan langit dihiasi warna-warni surgawi. Hidup akhirnya menjadi lebih berharga untuk diisi oleh kerakusan duniawi.
Semua itu menandakan kebesaran kita ternyata pada akhirnya adalah sesuatu yang semu dan fatamorgana. Untuk itu, memahami kekecilan diri sebagai sesuatu yang berharga merupakan bentuk awal dari rasa syukur sebagai seorang hamba, seru teman ini sembari senyum melihatkan giginya yang berlumuran kunyahan kacang tempe dengan arif. Jika demikian, siapakah atau apakah bisa disebut lebih mewah dan kaya hidupnya bila tak bisa lagi menikmati apa yang kecil di sekeliling kita, tutup saya.